Rabu, 27 Januari 2016

ARTIKEL PEMIKIRAN LINGUISTIK UNTUK PENELITIAN DAN PENDIDIKAN



Wulandari Nur Fajriyah
wulandarinf@gmail.com

Abstrak
Perkembangan ilmu linguistik dalam bidang pendidikan bahasa sampai saat ini mengalami kemajuan karena semakin banyak penelitian di bidang linguistik. Diperkuat dengan banyaknya jurnal penelitian di bidang linguistik yang telah diterbitkan. Yang membuat saya tertarik adalah penelitian ilmu linguistik yang memiilki persentase paling besar adalah dalam bidang struktur sebanyak 67,65%, berbanding jauh dengan bidang linguistik lainnya. Sangat disayangkan penelitian ilmu linguistik tidak berkembang secara seimbang sehingga pendidikan bahasa selama ini hanya fokus pada struktur. Siswa hanya dapat memahami struktur bahasa Indonesia tanpa diajarkan aspek fungsional bahasa. Harapan saya, penelitian ilmu linguistik dalam setiap bidang dapat berkembang dengan seimbang agar hasil peneitiannya bisa memberikan kontribusi yang signifikan dalam pendidikan bahasa sehingga ilmu linguistik memiliki daya tarik yang sama dengan ilmu pengetahuan yang lain. Untuk kedepannya akan banyak orang yang tertarik pada linguistik, sumber-sumber penelitian baik yang belum diterbitkan ataupun yang sudah diterbitkan secara bersama-sama dapat menjadi rujukan untuk dipelajari kembali sehingga dapat menciptakan penelitian-peneitian yang lebih baru dan mungkin bisa mencangkup masalah-masalah linguistik pada masa kini. Dengan demikian, ilmu linguistik dapat berkembang dan diminati sepanjang zaman.
Kata Kunci: Linguistik, Penelitian, Pengajaran Bahasa.

Pendahuluan
Linguistik dikenal dengan ilmu bahasa yang berisi sebuah konsep berupa nama. Pembahasan mengenai bahasa sudah dilakukan sejak abad ke-5 SM oleh orang-orang Yunani (seperti Cratylus dan Plato), sekarang yang kita kenal dengan “tata bahasa tradisional’ merupakan bidang kajian dalam ‘filsafat’ pada zaman tersebut.  Pandangan terhadap bahasa memunculkan dua kelompok berbeda, kelompok naturalis dan kelompok konvensionalis. Kelompok naturalis didasari oleh sudut pandang filosofi-logis, mengkaitkan bahasa dengan filsafat; gramatika merupakan bagian dari logika. Kelompok kovensionalis  didasari oleh sudut pandang deskriptif-etnografis, mengkaitkan bahasa dengan bidang antropologi; gramatika merupakan bagian dari budaya. Perbedaan pandangan tersebut terletak pada bentuk oposisi antara bahasa sebagai kaidah dan bahasa sebagai sumber. Namun keduanya memiliki perhatian yang besar pada aspek sistem; pengungkapan sifat mendasar dari bahasa (I Gusti Made Sutjaja, 1999: 59). Perkembangan selanjutya bahasa berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan yang sekarang kita kenal sebagai linguistik.
Linguistik sebagai ilmu memiliki tugas untuk mengkaji dan meneliti  secara ilmiah terkait dengan bahasa/ bahasa sebagai objeknya. Sumber dalam menganalisis bahasa adalah rasio dan pengalaman lewat pencaindera (Jos Daniel Parera:1991: 7).  Dari pengalaman manusia kemudian dipahami dengan rasio itulah sumber data penelitian linguistik. Penelitian lingistik awal memusatkan perhatian pada segi struktur fisik/ hanya yang tampak saja, seperti fonologi (mempelajari ilmu bunyi), morfologi (ilmu tata bentuk), dan sintaksis (mengatur kata menjadi frasa, klausa, dan kalimat), kajian ini disebut dengan linguistik struktural. Dalam sejarah studi bahasa bidang sematik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis karena makna yang menjadi objek kajian semantik. Baru pada akhir abad ke-19 sarjana Perancis Micheal Breal menulis  esai yang berjudul Essai De Semantique  menjelaskan bahwa semantik adalah ilmu yang murni historis ( Abdul Chaer, 2009: 13).

Pembahasan
Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya ( Abdul Chaer, 2007: 10). Pernyataan tersebut menekankan bahwa tugas linguistik hanya mempelajari kaidah-kaidah yang seharusnya sesuai dengan tata bahasa. Dalam kurun watu sekitar seperempat abad mengenai kajian linguistik di Indonesia, bahwa minat para linguis Indonesia masih terpusat pada tataran sitaksis dan dengan pedekatan struktural (Wahab, 1999: 11-14). Pengkajian tersebut berkutat hanya dari struktur fisik bahasa dengan data bahasa yang diteliti cenderung itu-itu saja, yaitu bahasa-bahasa di pulau Sumatera dan Jawa dan kurang memakai data bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur. Penelitian linguistik hanya befokus pada satu hal yang melupakan unsur lain, pendekatan struktur merupakan pengetahuan dasar dan sebaiknya ditambah dengan berbagai sudut pandang baru dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat kita menginterpretasikan bahasa dengan lebih untuh. Kita seharusnya mempertanyakan mengenai bagaimanakah aspek di luar bahasa seperti segi fungsional bahasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari, dalam wacana, dan lain sebagainya.
Penulusuran yang dilakukan oleh Lauder (1995:10-15) dengan mengikuti pembagian kelompok kegiatan yang dirancang oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Berdasarkan jenis penelitian, gambarannya adalah sebagai berikut: penelitian Struktur Bahasa 67,65%; Sosiolinguistik 3,67%; Dialektologi 9,12%; Sastra 16,46%; dan Pengajaran 3,10%. Data ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian struktur bahasa menempati urutan pertama petama (67,65%). Catatannya ialah bahwa penelitian yang berfokus pada fonetik dan fonemik jumlahnya minim, sedangkan penelitian yang berfokus pada variasi bahasa, yaitu penelitian sosiolinguistik dan dialektologi, ternyata masih kecil jumlahnya (12,79%) jika dibandingkan dengan penelitian struktur bahasa ( Multaia RMT Lauder, 2002: 175). Ketika kita mendalami sesuatu haruslah secara meluas begitupula dalam mendalami ilmu bahasa harus meluas tidak hanya pada bentuk fisiknya saja, kita harus mendalami pengaruh dari dalam dan luar. Jangan menggunakan “kacamata kuda” yang hanya melihat lurus ke depan. Seperti juga dalam pendidikan, bahwa ketika mengajar harus memperhatiakan hal-hal lain bukan hanya fokus pada strategi saja tapi harus pada hal-hal lain untuk mendukung pembelajaran.
Perbedaan antara dua kubu di awal pembahasan memberikan warna dalam penelitian dan pendidikan bahasa. Linguistik untuk pendidikan berkaitan dengan kegiatan belajar dan mengajar bahasa. Pendidikan bahasa Indonesia diajarkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua setelah bahasa ibu. Perkembangan pengajaran bahasa Indonesia ditinjau dari beberapa aspek, yaitu: a) buku rujukkan, ada dua buku rujukkan awal yang dipakai hampir semua guru bahasa Indonesia, yang diisusun oleh Alisjahbana (1981) dan Keraf (1934), Keraf menulis tentang tata bahasa untuk membarui warna “tradisional” pada buku tata bahasa sebelumnya, dengan memasukkan warna “transformasional” tetapi yang diolah secara bebas; b) kurikulum, pada kurikulum 1975 bahasa diajarkan dengan pokok-pokok bahasan, yaitu: membaca, mengarang, mendengarkan, wicara, dan sastra. Kemudian pada kurikulum 1984 bahasa diajarkan dengan pokok-pokok bahasan, yaitu: membaca, kosakata, struktur, mengarang, pragmatik, dan apresiasi sastra. Pada kurikulum 1994 bahasa diajarkan dengan tiga komponen yang digunakan, yaitu: kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan; c) Buku Teks, perkembangan buku teks di sekolah dasar dan menengah dapat dipilah atas dua: masa sebelum ada ‘buku paket” dan masa “buku paket”. Pada masa sebelum buku paket, bahasa Indonesia tercermin dari teks bacaan pada buku yang terasa tebal warna melayunya. Pada masa buku paket, bahasa Indonesia muai banyak dirasuki unsur Jawa dan bahasa daerah lainnya. Begitupula pada penulis buku teks tersebut, sebelum buku paket hampir semua berlatar belakang bahasa di Sumatera; d) Guru, pada tahun 50-60an pendidikan guru seperti SGB dan SGA dapat menarik siswa lulisan terbaik, tetapi pada tahun 70-an ke atas (sesudah ada jenjang FKIP dan IKIP) tidak lagi lulusan terbaik yang tertarik masuk pendidikan guru (Bambang Kaswanti Purwo, 2002: 193-200).
Pengaplikasian kurikulum pada pembelajaran bahasa Indonesia di bawah KTSP secara kasar, dapat dikatakan bahwa pengajar bahasa Indonesia lebih tampil sebagai “penceramah”, “pemberi informasi”, “pengoreksian kesalahan” (Bambang Kaswanti Purwo, 1999: 193-230).   Siswa hanya diajarkan bagaimana penggunaan bahasa yang sesuai dengan ejaan yang berlaku, pemahaman dengan struktur kalimat, pembentukan kata dari mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Padahal yang paling penting dalam pengajaran bahasa adalah bagaimana siswa dapat memproduksi kalimat dan wacana yang koherensi, analogi, dan dapat dipahami oleh pembaca, bagaimana berbahasa yang baik dan benar, hal tersebut belum dapat diwujudkan karena pembelajaran bahasa hanya fokus pada struktur saja tanpa melihat unsur lain. Siswa kesulitan untuk membuat paragraf yang koherensi, kebinggungan berbahasa yang benar. Dalam pendidikan ketika mengajar harus memperhatikan hal-hal lain bukan hanya fokus pada strategi saja atau metode saja tetapi harus memperhatikan hal-hal lain untuk mendukung pembelajaran, seperti: psikologi siswa, silabus pembelajaran, evaluasi, dan sebagainya.
Kurikulum 2013 dalam mata pelajaran bahasa Indonesia mengalami perubahan mendasar dari kurikulum sebelumnya, yaitu pembelajaran bahasa yang berbasis teks. Tahapan dalam pembelajarannya, diawali dengan membangun konteks, kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, dan membangun teks secara mandiri. Guru diharapkan hanya menjadi “fasilitator” begitupula pada KTSP. (Agusrida, 2014: 3-4). Kita sudah sering mengucapkan dan mendengar frasa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang ini diperlukan perhatian yang lebih jauh lebih banyak pada pemakaian bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’ melalui usaha pengajaran bentuk bahasa yang benar sesuai dengan struktur bahasa Indonesia dan kita perlu melakukan kegiatan berbahasa/pemakain bahasa yang baik sesuai dengan situasi dan konteks pengguna, baik dalam ragam tulisan maupun dalam ragam lisan. Pengajaran bahasa secara struktural seharusnya diimbangi juga secara kontekstual menjadikan siswa dapat berbahasa yang baik dan benar. (P.W.J. Nababan, 1996: 291-293). 

Simpulan
Linguistik sebagai ilmu pengetahuan memiliki tugas untuk melakukan pengkajian dan penelitian ilmiah terhadap bahasa. Hasil penelitian bahasa berkontribusi besar terhadap pendidikan terutama pengajaran bahasa. Sayangnya, penelitian bahasa yang selama ini telah hanya fokus pada struktur begitupula pengajaran bahasa yang diterapkan selama ini  hanya fokus pada struktur. Siswa hanya diajarkan bagaimana berbahasa Indonesia yang baik tanpa diajarkan bagaimana berbahasa Indonesia yang benar. Seharusnya penelitian bahasa dapat berkembang secara seimbang antara struktur fisik dan fungsionalnya, keselarasan tersebut akan mewujudkan pembelajaran bahasa Indonesia yang tidak hanya baik tetapi juga benar.

Artikel pemikiran ini diajukan untuk tugas akhir mata kuliah Linguistik Umum di Sekolah Pascasarjana UNJ 2015/2016.

PAPANDAYAN 150515

Ini kali pertama petualanganku dimulai, dulu pernah sebelumnya dengan persiapan matang di gunung tanggamus namun kali ini dengan modal berani akhirnya kami bertujuh memutuskan tekad dan niat untuk naik gunung Papandayan yang berada di Garut.

Bermodalan sarapan bubur Garut yang khas dengan kari ayam dan berbekal nasi kuning Garut yang sekalian pesan di tukang bubur akhinya kami menuju lokasi pendakian. Salah satu dari kami membayar tempat parkiran dan izin untuk pendakian tanpa ngecam artinya kita semua sepakat naik pagi jam 08.00 ke atas setelah itu turun.

Perjalanan menuju tempat pendakian lumayan jauh kira-kira dua jam dari Cilawu menggunakan kendaraan pribadi. Dan dari titik terbawah inilah kami semua mulai mendaki, jalan yang tak begitu rata dengan pertama pemandangan sekeliling hutan dan pepohonan kemuidan mata kami disambut dengan warna putih disekeliling bukit dan sampailah kami di titik pertama adalah kawah belerang, beritirahat sejenak dengan mengabadikannya dalam foto.

Setelah itu kami menuju ke titik kedua tetapi tidak melewati jalan normal melainkan melalui jalan bawah karena jalan normal tidak bisa dilalui. Dititik kedua ini kmi beristirahat lumayan lama karena trek jalan yang turun kemudian menanjak membat kaki semakun terasa pegal. Dan sebagian dari kami megisi tenaga, makan dan mengisi minum dari mata air gunung papandayan. Jadi, kalau ke sini lagi cukup membawa dua botol besar saja karena di atas bisa diisi ulang dengan mata air yang jernih dan sedingin dari kulkas. Heheheheh














Setelah puas beristirahat dan sempat tidur beberapa menit, kami masih harus melanjutkan perjalanan berikutya ke pondok salada titik di mana para pendaki yang bermalam. Menurutku trek ini yang membawa segala ujian untuk kaki saya yang semakin merasakan lelah dan sempoyongan tapi melihat yang lain dan para pendaki yang semangat membuat kaki semakin kuat untuk turun dan menanjak sampai di pondok salada.
Tiba di pondok salada tepat waktu zuhur kemudian para laki-laki shalat jumat terlebih dahulu kemudian disusul perempuan, dan aku pun menjamak shalat zuhur dan ashar. Setelah itu, buang air di tempat yang urgen dan melanjutkan perjalanan ke puncak papandayan “Tegal Alun”. Sebelum ke puncak kami sampai dititik keempat yaitu “Hutan Mati” gunung Papandayan, seperti namanya hutan mati ini memang dikelilingi dengan beribu-ribu pohon yang hanya tinggal batang dan dahan saja berwarna colat tua yang mati dan hangus karena meletusnya gunung papandayan di tahun 2005. Tak perlu banyak warna unutuk meluiskan keindahan cukup dengan batang yang berdiri tanpa daun dan pemandangn putih dibelakangnya membuatku takjub akan kebesaran Allah SWT, akan keindahan yang bukan lagi hanya kulihat di foto tapi sekarang aku melihatnya langsung bisa merasakan hawanya langsung dan bisa memang setiap dahan yang berkerut kokoh kuat di setiap tempatnya.
Hanya sebentar di hutan mati kami jalan ke depan dan puncak papandayan sudah menunggu kami. Untuk mencapai puncak ini pun tidak mudah memang semua gunung pun begitu, puncak memang trek yang terkenal tidaklah mudah itupun yang saya rasakan dengan tim. Di awal belum terlalu terjal dan menanjak. Namun hampir satu jam kami melewati jalan terjal dan menanjak hanya bermodalkan pegang kanan kiri pohon dan akar pohon dan ada pula yang hanya memegang batu. Dibutuhkan kesabaran, keyakinan, dan kekuatan untuk terus maju sampai puncak. Jika tak berani jangan lakukan dan jangan melihat ke bwah karena pemandagan bawah terlalu indah untuk di pandang terlalu lama.
Cukup tegang dan takut untuk pemula sepertiku tapi akhirnya aku dan tim bisa sampai di padang edelweish yang sungguh menawan, di kanan kiri penuh dengan bunga penghuni pengunungan. Edelweish menjadi lembang perjuangan dan hadiah mata di puncak papandayan. Dipuncak papandayan “Tegal Alun” ini kami mengabadikan momen perjuangan tim dan kemudian berakhir dengan keadaan dan cuaca yang mulai mendung karena sudah jam setengah empat. Akhirya turunnya kami dari puncak papandayan diiringi dengan derasnya hujan yang kami rasakan semakin dingin dan berat dalam menuruni gunung ini namun jika kami tetap diam dan tak bergerak makan kami akan semakin beku maka kami tetap melanjutkan perjalanan.
Sampai di pondok salada kami hangatkan diri dengan teh hangat dan beberapa jajanan hangat bakso tusuk, cakwie, dan gorengan karena di pondok salada ini ada beberapa warung yang berdiri dengan bambu dan terpal. Untuk harganya gorengan seribu rupiah, cakwie sepuluh ribu rupiah, dan bakso lumayan besar seribu rupiah serta minuman lima ribu rupiah. Badan mulai terasa hangat sementara namun embun setiap berkata-kata tetaplah berkebul namun kami harus turun dan bergerak karena hujan sudah mulai menipis.
Langkah kakiku mulai gontai karena seluruh badan basah, sepatuku semakin berat karena hujan yang membuat besi tak bisa diam menggesek kakiku. Memang hanyalah kaki yang telah jauh melangkah dan mata yang semakin lebar melihat keindahan. Akhirnya sampai juga kami di kawah belerang titik pertama dalam mendaki tadi artinya kami sudah hampir sampai. Serasa kacamata ini sudah tak bisa fokus melihat hanya hitungan menit lalu kabur dan terasa puisng. Perasaan itu patilah ada semua tim pun merasakan namun dengan melihat laki-laki yang mengajakku melakukan hal yang mustahil namun kita berdua bisa melewati bersama itu sungguh luar biasa. Terimakasih atas kesabaran dan selalu memotivasi dalam setiap kelelahan yang kau pun rasakan. Lalu, adakah pasangan yang lebih sempurna dari seseorang yang membuat kita mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya mustahil?
Terimakasih juga atas kebesaran dan keindahanMu yang menciptakan kemolekan Gunung Papandayan, setiap jalan dan setiap kaki ini melangkah tak pernah sedikitpun terlupakan namun akan jadi pengalaman yang terindah. 2665 mdpl aku mulai memantapkan hati.

Jum’at, 15 Mei 2015


Jumat, 10 April 2015

MENJELAJAH KULINER GARUT, JAWA BARAT



Satu tas ransel merah marun yang paling kuandalkan kemanapun ku pergi sudah siap sedari sore tadi, menunggu seseorang yang akan membawaku dan adikku serta teman adikku untuk menjelajah kota Garut. Ini pengalaman pertama menjelajah Jawa Barat ke tempat baru, dan kesempatan untuk berlibur di tanggal merah bersama teman dan adik tercinta.

Selesai magrib, tepatnya pukul 18.00 WIB datanglah yang mengajak kami berpetualang, aku bergegas untuk langsung menuju ke pasar jumat menjemput bus Lebak Bulus-Garut karena bus tujuan Garut  hanya sampai pukul 20.00 WIB. Cuaca yang begitu deras melepas kepergian kami, alhasil baju lumayan lepek. Setelah beberapa saat menunggu di halte sambil berteduh, bus datang ditengah derasnya hujan segera kami masuk dan suasana dingin dari AC menyergap kami berempat.

Lima jam perjalanan, tepatnya padajam 1.30 dini hari kami sudah sampai di stasiun Garut, suhu udara yang dingin menyambut kami dan pemandangan ransel besar dan beberapa mobil bak di pinggir jalan membuatku cemburu seketika dan bergumam, “kapan aku bisa menjadi salah seorang penumpang di mobil bak tersebut”. Jadi, kami tiba saat berkumpulnya orang-orang yang akan naik Gunung Papandayan, tapi bukan tujuan itu kami kemari tapi tujuannya adalah wisata kuliner. Heheheheh

Setelah dijemput, kami beristirahat sejenak di rumah dan baru siap menjelajah setelah zuhur dengan alasan dingin membuat malas untuk mandi, dan sudah mulai lapar. Hehehehe...
Hari pertama, kuliner kali ini sih lebih tepatnya bukan aku yang menjelajah tapi diajak dan ditunjukkan kuliner yang memang paling enak di Garut. Tujuan pertama adalah jajanan sepanjang swalayan Yogja sebelum masjid agung Garut, yaitu:

      1.      Chocodot
Siapa yang tak kenal Chocodot? Coklat yang berisi dodol yang banyak diminati karena inovasi yang unik dan beragam rasanya. Jika brkunjung ke Garut ada tempat khusus oleh-oleh khas Garut berada di sebarang swalayan Yogja, tempatya bagus dan lengkap dengan berbagai rasa chocodot dari bentuk kemasan, rasa, dan bentuk. Misalnya, ada chocodot rasa jahe, pedas, keju, strawberry, dan lain sebagainya. Kemudian dari segi kemasan ada yang dikema dari sekali makan, kotak kecil, sampai yang besar dengan berbagai desain “Coklat anti jomblo, coklat anti galau, coklat sarjana pantang pengganguran, dan lain sebagainya”. kemudian daru segi bentuknya pun brbeda-beda ada coklat, brodol (brownise dodol), boneka chocodot, tas, dan menjual juga ikon kota Garut, boneka kambing, bantal kambing, baju, dan lain sebagainya.

     Dan yang paling seru, kalau penasaran dan pengen main untuk tau rasanya bisa banget, karena setiap chocodot di sini ada testernya alias bisa coba secara gratis tapi atu diri juga yah. Hehehehehe
Harga untuk chocodot di sini mulai dari harga 15.000 – 100.0000,- lumayan terjangkau untuk membawakan oleh-oleh untuk keluarga, teman, dkk.



      2.      Batagor Kuah, lidi-lidian, molen aneka rasa
            Jalan dari outlet chocodot maju sedikit ke depan sebelah kanan sepanjang trotoar ada pedagang kaki lima yang siap kami serbu, khususnya yang rekomendasi ada makan lidi-lidian yang beli Cuma Rp. 3000,- bisa mabok makan sendrian alhasil aku simpan baru esoknya habis. Heheheh.... selain lidi-lidian, kami juga pesen batagor kuah, jadi tetap sama ada bntk batagornya tetapi menggunakan kuah bnih yang seger dan tambahan kecap, saus, serta sambal sesuai selera, cukup Rp. 5000,- sudah kenyang. Dan beli molen Rp 10.000 puas untuk penutup perut kami berlima. Jadi kami hanya menghabiskan uang yang tidak hampir Rp. 20.000 untuk berlima. Hehehehe..

            Pesan yang terpentig jika kuliner di Garut enak kalau bebarengan, masing-masing pesan menu yag berbeda jadi bisa bergantian mencoba karena masih banyak yang harus dicoba jadi sangat perlu menjaga perut agar tetap memilki ruang untuk makanan selanjutnya.

      3.      Bakso Mang Entis
      Makanan jajanan sudah mengisi perut kami ajak jalan-jalan menyusuri kota Garut sambil menuju tempat makan selanjutnya, “Bakso Mang Entis”. Bakso yang terkenal di kota Garut ini tidak berada di tempat umum tapi berada di depan rumah pemiliknya yang pasti bernama “Mang Entis”. Hehehehe.. Tepatnya di depan Pondok Pesantren Majelis Ta'lim Al-Musaddadiyah Garut.

      Suasana di dalam sangat ramai untugnya kami langsung dapat tempat, dan memesan bakso, ada berbagai jenis baksonya kalau memesan di sini, ada bakso campur artinya bakso kecil, besar, dan tahu, bakso satu artinya bakso yang gede satu dengan di dalamnya urat, kemudian bakso lengap sayur isinya sayuran dan tanpa sayur pun bisa.

     Aku memesan bakso satu dengan sayur artinya satu bakso besar dengan sayur dan mie putih. Rasanya memang enak, tapi gak enak banget sih, dan yang paling khas di kota Garut adalah sambel pendamping bakso dan makanan berkuah lainnya adalah sambelnya dibuat dari cabai kering yang ditumbuk kemudian disiram air panas.

      Rasanya lebih nendang dan pedes banget karena cabainya langsung berasa dan orang garut juara banget deh kalau soal makan sambel. Aku mengaku kalah. Hheheheh
Harga yang dibandrol untuk sau porsi bakso Rp 15.000,-

Hari kedua, masih sama kejelekannya tapi ini lebih mendingan karena keluar sebelum zuhur nih karena rencanaya kita akan ke Bandung makan surabi bandung yang udah kebayang rasanya, tapi karena cuaca yang tidak mendukung arah dari Garut ke Bandung macet karena banjir alhasil kami menghabiskan siang hingga sore di rumah tapi sebelumnya kami mampir di Ramayana Garut beli “Baker’s King”, agak asing sih mendengar nama ini karena sebelumnya belum penah melihat  di Jakarta dan ternyata memang cuma ada di Garut.


Konon katanya, pemilik toko dan pembuatan donat ini adalah mantan pekerja di donat yang tak asing namanya bagi kita JCO. Donat yang ngehitzs ini gak kalah enak dengan donat yang udah melegenda JCO, dan ternyata setelah aku coba benar tekstur dan kelembutan serta rasa donat ini 11-12 dengan donat melegenda itu. Harganya pun tak jauh berbeda hanya selisih Rp 15.000 – 20.000/per- lusin.




Kemudian malamnya kami menjelajah di kuliner malam sekitar masjid agung Agrut yang sangat ramai, kami membeli menu makan malam, yaitu ayam bakar dan mencoba sosis bakar yang gede dan panjang banget dengan saos dan mayonaise menyelimuti di jual dengan harga Rp 15.000,- rasanya enak banget sampai hari berikutnya aku masih sempatkan diri ke sini untuk beli lagi. Heheheheh....

Hari ketiga, setelah makan di rumah kami keluar setelah zuhur dan menuju tempat wisata yang hampir sama suasana dan tempatnya seperti kawah putih, namanya adalah telaga bodas. Sebelum menuju ke sana kami kuliner sejenak di pempek yang tak jauh dari Ramayana, dan mulai mencari makanan yang lain, yaitu:

1. Batagor dan Colenak
Belum lengkap rasaya kalau ke Bandung tak mencoba batagor, aku membeli batagor dipinggir jalan yang bersampingan dengan pedangang colenak dengan harga Rp 7.000,- dan pasti membeli colenak, yang belum pernah aku coba dan baru mendengar dihargai Rp 4.000,- Colenak adalah makanan khas Jawa Barat yang terbuat seperti peyem atau tape yang dibakar kemudian disiram dengan gula merah dan kelapa dan diburi kacang.

2. Tutuk Oncom dan Chibay
Belum puas dengan itu semua yang membuat aku penasaran adalah ingin sekali mencoba tutuk ocom, yang ternyata nasi yang diolah dengan oncom dengan lauk ikan asin, telur, dan tempe dengan harga Rp 8.000,-. Kemudian membeli Cibay, makanan yang baru aku dengar namanya juga ini dijual satunya Rp 1.000,-. 


Cibay adalah makanan yang tebuat dari sagu yang di panaskan dan diisi dengan beragai isian, ada yang diisi dengan telur, bihun, dan sebagainya, kemudian dimasukkan dalam plastik dan ditambahakan bubuk asin serta pedas menambah rasanya yang mengoyang lidah.

Setelah puas berkuliner dan membawa bekal untuk ke telaga bodas kami siap untuk ke sana, untuk menuju telaga bodas hindari menggunakan mobil karena jalan yang sempit, licin, dan menanjak akan menyusahkan lebih enak naik motor karena bisa langsung liat pemandangan yang indah dan merasakan goyangan setiap meter perjalanan.

Berada di atas bukit nun jauh sehingga perjalanan yang semakin dingin dengan cuaca yang tidak menentu, di bawah kering dan di atas hujan dan sebaliknya sehingga harus siap sekali dengan fisik. Setelah mnempuh perjalanan selama 40 menit kami sampai di telaga bodas, kemudian membayar untuk masuk dan parkir (2015) sebelumnya di tahun dulu motor atau kendaraan bisa masuk langsung ke telaga bodas tetapi sekarang kendaraan di parkir di luar sehingga kita harus jalan menuju telaga bodas tersbut jika tak ingin jalan banyak ojek yang menunggu untuk mengantar dan jemput Anda.

Dengan kesepakatan berjalan bersama menikmai pemandangan bukit di sepanjang jalan dan sekitar berjalan santai 15 menit kami disambut dengan bau belerang dan warna putih serta kabut yang siap mnyerbu badan kami. Akhirnya kami sampai, tak disia-siakan mengabadikan momen ini dengan kamera dan video.

Kami berjalan-jalan ke samping telaga melewati jalan dan beberapa pemandangan kanan kiri pohon, ada jembatan dan sungai jernih yang mengalir, hampir setengah jam kami di sini dn akhirnya kembali lagi ke depan untuk pulang.

Malam setelah turun dari telaga bodas kami makan bakso lagi dikarenakan salah seorang dari kami penikmat bakso sepanjang masa, makannya Cuma bakso dan mie instan (jangan dicontoh). Kemudian menuju jajanan malam seperti hri sebelumnya untuk membeli sosis lagi dan mampir ke martabak rasa apapun dengan harga Rp 16.000,- murah banget kan. Kami memesan rasa coklat, dan martabak telor.

Hari keempat, harus jadi hari terakhir nih soalnya sudah ada yang bolos kuliah dan kerja kan akunya jadi gak enak sebagai orang yang tak sibuk, heheheh. Jadi hari terakhir karena kemarin kita turun dari telaga bodas magrib dan bus Garut yang menuju Jakarta udah tidak ada karena bus terakhir jam 18.00.
Akhirnya siang setelah zuhur kami pulang tapi sebelum pulang kami mampir lagi di molen crispy (memang rasanya crispy banget) Rp 10.000 dan mencoba martabak mini harga satunya Rp 2.000 – Rp 2.500,- dan yang terakhir mencoba es goyobod Rp 6.000,- es goyobod ini isinya campur-campur ada campuran berbagai buah dan goyobodnya adalah seperti aci dan terigu bentuknya seperti jelly tetapi tidak ada rasanya. Secara keseluruhan karena tidak hobi minum es tetapi minumnya selalu teh tawar, yah es ini perlu dicoba karena rasanya yang nano-nano efek dicampur-campur.

 
Setelah itu, siap menuju terminal Garut dan pulang menuju Jakarta. Alhmadulillah sampai dengan selamat di Lebak Bulus waktu magrib.

Terimakasih yang telah mengajak liburan Ragaku, dan untuk Kak Egi yang sudah direpotkan dan yang paling merepotkan Afwan dan Kiki, lain kali kita main lagi naik Papandayan yah. Amin ya Rabb.